KISAH TELADAN TOKOH WAYANG BAMBANG SUMANTRI



 Kisah Bambang Sumantri Ngenger adalah salah satu lakon paling ikonik dalam jagat pewayangan Jawa (serat Arjunawiwaha/Puri Gading). Ini adalah kisah tentang ambisi, kesetiaan, dan pengorbanan yang tragis.

Berikut adalah ringkasan kisahnya:

1. Sosok Sumantri dan Adiknya

Bambang Sumantri adalah pemuda tampan, sakti, dan cerdas, putra dari Begawan Suwandagni. Namun, ia memiliki seorang adik bernama Sukasrana yang berwujud raksasa kerdil (setan gundul) yang buruk rupa. Meskipun penampilannya kontras, keduanya sangat menyayangi satu sama lain.

2. Ambisi "Ngenger" (Mengabdi)

Sumantri ingin mengabdikan dirinya (ngenger) kepada Raja sakti di Maespati, yaitu Prabu Arjunawijaya (Arjuna Sasrabahu). Ayahnya mengizinkan, namun dengan syarat: Sumantri tidak boleh membawa adiknya yang buruk rupa itu agar tidak mempermalukan dirinya di istana.

Sumantri pun meninggalkan Sukasrana dengan janji akan menjemputnya nanti.

3. Syarat Berat di Maespati

Sesampainya di Maespati, Prabu Arjunawijaya memberikan syarat yang sangat berat bagi Sumantri jika ingin diterima sebagai senapati:

  1. Memenangkan Sayembara: Sumantri harus memenangkan Dewi Citrawati dengan mengalahkan ribuan raja lainnya.

  2. Memindahkan Taman Sriwedari: Setelah memenangkan sayembara, Sumantri (karena kesombongannya) ditantang untuk memindahkan Taman Sriwedari dari kahyangan ke Maespati.

4. Peran Sukasrana dan Kesombongan Sumantri

Sumantri berhasil memenangkan sayembara, namun ia gagal memindahkan Taman Sriwedari. Di tengah keputusasaannya, Sukasrana muncul. Dengan kesaktiannya, Sukasrana bersedia membantu memindahkan taman tersebut asalkan ia boleh terus bersama kakaknya.

Taman pun pindah dalam semalam. Namun, saat Sumantri melihat Sukasrana bermain di taman yang indah itu, ia merasa malu dan takut rahasianya terbongkar oleh sang Raja. Sumantri mengusir adiknya, bahkan menakut-nakutinya dengan memetik busur panah.

5. Tragedi Panah Cundamani

Niat Sumantri hanya ingin menakuti, namun karena takdir, anak panahnya terlepas dan mengenai dada Sukasrana hingga tewas. Sebelum meninggal, Sukasrana bersumpah:

"Kakak, aku akan menunggumu di pintu surga. Kita akan bersama lagi saat kau mati di tangan raksasa."

6. Akhir Hayat

Sumantri akhirnya diterima menjadi patih di Maespati dengan gelar Patih Suwanda. Ia menjadi patih yang sangat setia dan hebat. Namun, sumpah adiknya terbukti bertahun-tahun kemudian. Sumantri gugur dalam pertempuran melawan Rahwana (Raja Alengka). Sukasrana menjemput sukma kakaknya melalui taring Rahwana.


Makna Filosofis

Kisah ini sering dijadikan cermin tentang kesetiaan seorang abdi (melalui ajaran Tripama), namun juga menjadi peringatan tentang bahaya kesombongan dan bagaimana ambisi terkadang membuat seseorang tega mengabaikan orang yang paling mencintainya.

mari kita dalami ajaran Tripama (Tiga Contoh Teladan) yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV.

Bambang Sumantri (setelah menjadi Patih Suwanda) adalah tokoh pertama dan utama dalam serat tersebut yang dijadikan contoh bagi para prajurit atau abdi negara. Berikut adalah nilai-nilai luhur yang bisa diambil dari sosoknya:

1. Watak "Guna, Kaya, Purun"

Patih Suwanda dianggap sebagai ksatria ideal karena memiliki tiga bekal utama:

  • Guna (Kepandaian/Kemampuan): Ia adalah sosok yang sangat sakti dan cerdas. Ia mampu menyelesaikan tugas-tugas sulit dari rajanya, termasuk memenangkan sayembara melawan banyak raja.

  • Kaya (Keberhasilan/Hasil Kerja): Ia selalu memberikan hasil nyata. Kemenangannya membawa harta, kehormatan, dan wilayah bagi negaranya (disimbolkan dengan memboyong putri dan memindahkan Taman Sriwedari).

  • Purun (Keteguhan Hati/Keberanian): Ia memiliki tekad yang bulat. Sekali ia berjanji untuk mengabdi (ngenger), ia melakukannya dengan totalitas tanpa ragu, bahkan berani mempertaruhkan nyawa.

2. Setia Hingga Akhir (Lelabuhan)

Meskipun Sumantri melakukan kesalahan fatal terhadap adiknya (Sukasrana) karena gengsi, dalam hal kenegaraan, ia adalah contoh loyalitas mutlak. Ia gugur di medan perang saat membela negaranya dari serangan Rahwana. Ia tidak melarikan diri meskipun tahu lawannya sangat kuat, demi menjaga kehormatan rajanya.

3. Sisi Kelam: Penyesalan dan Gengsi

Penting juga untuk belajar dari sisi kemanusiaan Sumantri. Tragedi tewasnya Sukasrana mengajarkan kita bahwa:

  • Gengsi bisa membutakan: Sumantri malu mengakui adiknya yang buruk rupa karena takut merusak citranya di depan raja. Ini adalah peringatan agar kita tidak melupakan "akar" atau orang-orang yang membantu kita saat kita sudah berada di atas.

  • Kesetiaan yang tragis: Sumantri menebus dosanya kepada Sukasrana dengan pengabdian yang luar biasa kerasnya kepada negara, hingga akhirnya mereka bertemu kembali di alam baka.

Dalam konteks modern, ajaran Sumantri ini sering diartikan sebagai profesionalisme. Seseorang harus punya skill (Guna), bisa memberikan kontribusi nyata (Kaya), dan punya dedikasi atau integritas (Purun).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KISAH GATOTKACA YANG MENJADI PRIBADI UNGGUL

LAKON TENTANG AJI NARANTAKA